Manusia sampai kapanpun tidak pernah akan menjadi sempurna. Dan seorang manusia lebih tidak mungkin lagi mampu membuat manusia lain menjadi sempurna, sesuai keinginannya. Dua kalimat itu patut saya pancangkan dalam-dalam di hati ini. Sebab seringkali kemauan pribadi mengalahkan realita yang ada. Dan akhirnya ujung yang ditemui adalah kekecewaan semata.
Jika kita menemukan seseorang yang merasa dirinyalah yang paling sempurna, yang selalu bisa berbuat apa saja, dan orang lain selalu berbuat salah di matanya, maka di saat itulah tampak ketidaksempurnaannya. Bahwa ia merasa dirinya lebih penting dibandingkan yang lainnya, merasa lebih bisa, dan segala hal yang akhirnya berujung kepada satu hal yaitu: kesombongan. Karena, sekali lagi, manusia sampai kapanpun tidak pernah bisa menjadi sempurna. Kecuali satu orang saja, seseorang yang mulia dan telah dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang, yang mendapat koreksi langsung dari Allah Swt untuk kekhilafannya. Muhammad Rasulullah SAW.
Suatu ketika, saya mendapatkan cerita dari seorang teman tentang pengalamannya mengikuti sebuah forum diskusi terbatas. Ia mengatakan bahwa saat itu adalah waktunya saling mengoreksi dan menyampaikan masukan. Saat yang pastinya ditunggu-tunggu. Sebagai sesama aktivis dakwah, pastinya sudah saling tahu dan paham etika menyampaikan kritik dan bagaimana mengutarakan isi hati tanpa menyinggung perasaan yang lainnya. Dan begitulah yang terjadi, masing-masing menyampaikan pendapat, pesan kesan, kritikan, usulan dengan cara yang santun dan bahkan mencairkan suasana yang tadinya tegang dan kaku akibat kelelahan dari semua peserta yang hadir. Semua berjalan lancar, sampai seseorang angkat bicara dan memotong perkataan seorang peserta yang tengah menyampaikan pendapatnya. Ia menukas setiap pendapat yang peserta tadi sampaikan dengan cara yang sepertinya membuat setiap yang mendengar merasa kerdil dan malu akan pendapat-pendapat yang telah disampaikan. Sepertinya mereka telah melakukan hal yang memalukan dengan mengutarakan usulan-usulan tersebut.
Dan itu telah terjadi berkali-kali. Di forum yang berbeda-beda, oleh orang yang sama.
Teman saya itu seorang sarjana psikologi, dan saya seorang peminat ilmu psikologi. Kami pun cukup sering membahas panjang lebar alasan kenapa orang tersebut berlaku demikian, bagaimanakah analisa karakternya, apa terapi yang tepat untuknya, sebab perilaku yang tidak menyenangkan seperti itu tidak akan membangun suasana kondusif untuk belajar dan saling berinteraksi. Adakah yang bisa kami lakukan untuknya? Terus terang saja, saya jadi merasa kasihan dengan tipikal orang yang seperti itu. Merasa dirinya paling benar dengan cara menjatuhkan orang lain di setiap kesempatan. Lalu, saya bertanya dalam hati, apakah saya pernah melakukan sikap seperti itu? Astaghfirullahal’azhiim … semoga saja tidak.
Seringkali diri kita melewati hal-hal penting yang berseliweran di sekitar kita. Melewatkannya bisa jadi sama dengan menganggapnya tidak atau kurang penting. Oleh sebab kekurangpentingannya itulah makanya sesuatu hal itu bisa terlewatkan begitu saja. Sebab, mana mungkin sesuatu hal yang dianggap penting bisa dengan mudah terlupakan. Contohnya saja, kalau membaca Alquran setiap hari sudah menjadi sebuah kebutuhan, maka ketika sekali saja terlupa atau tidak dapat membaca disebabkan hal lain, perasaan menyesal bukan kepalang akan terasa. Lain jika ibadah yang satu itu belum menjadi sebuah kebutuhan, maka melewatkannya akan terasa biasa saja.
Bicara soal kebutuhan, tidak semua orang memiliki kebutuhan untuk bisa ‘memperbaiki keburukan yang ada pada orang lain’. Memperbaiki bukanlah dimaksudkan sebagai ‘upaya turut campur’. Berbeda. Yang saya maksudkan adalah kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk dapat menasehati saudara saya sesama muslim lainnya bila ia melakukan sebuah kekhilafan. Menasehati di sini bisa jadi tidak dalam artian berbicara empat mata lalu menceramahinya panjang lebar. Sungguh banyak varian yang bisa dilakukan untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Hanya sekadar mengingatkan, selebihnya urusan dirinya sendiri apakah mau memperbaiki diri atau tidak. Ini hanyalah sebuah ikhtiar demi kebaikannya.
Dan memang, kebutuhan setiap orang berbeda. Mungkin saja ketika saya merasa perlu untuk bertindak demikian terhadap orang tersebut, bagi orang lain hal itu tidaklah penting. Bagaimanapun, bertindak atau tidak bertindak, menasehati atau tidak, kita akan menghadapi konsekuensi perilaku setiap orang di sekitar kita. Demikian juga sebaliknya.
Kesempurnaan memang hanya milik Sang Pencipta. Tetapi Ia memberi kita semua begitu banyak potensi untuk diarahkan menuju kebaikan dan kesempurnaan sikap. Tinggal kitalah yang akan memilih, akan memanfaatkan potensi tersebut, atau membuangnya sia-sia. Menyeru kebaikan pada orang lain sama dengan upaya kita membenahi diri sendiri. Semuanya berawal dari hati.
Saturday, June 27, 2009
Friday, June 26, 2009
Biarpun Berkali-kali Jatuh
Pernahkah Anda menemukan seseorang yang begitu pesimis menghadapi kehidupannya? Dan ia yang hampir selalu memiliki pandangan negatif terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya?
Saya mengenal seseorang yang seperti itu. Hampir di sepanjang hidupnya, ia mengalami kejadian-kejadian buruk yang begitu menyakitkan hati. Hubungan saya dengannya bisa dikatakan cukup dekat, hingga saya seolah bisa merasakan sendiri pedihnya mengalami peristiwa-peristiwa tersebut. Bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa merasakan langsung perasaannya. Saya hanya bisa mencoba untuk mengerti, bahwa di setiap sikap pesimisnya, tersimpan amarah akan hal-hal buruk yang menimpanya. Sekaligus kesedihan karena ketidaksanggupan untuk mencegah hal-hal buruk itu supaya tidak terjadi, dan juga rasa malu yang kini ditanggung atas bad ending yang ia jalani. Menyedihkan, bukan?
Kehidupan ini seperti roda yang berputar, begitu kata orang. Kadang ia membawa kita ke atas, lalu ia berputar ke bawah. Kadang terhampar kemudahan, namun selanjutnya bisa pula badai menghadang. Dan sebagai seorang manusia yang lemah ini, kita seringkali terjebak akan ‘lubang-lubang’ keangkuhan dan keserakahan apabila kesenangan yang sedang digenggam. Atau kita seringkali terjerembab masuk ke dalam jebakan keingkaran dan kelalaian saat menerima kesedihan. Tak pernah ada puasnya. Hidup memang tempatnya salah dan lupa, tempatnya belajar dan berusaha, tempatnya kegagalan, dan sekaligus tempat manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik atau berpasrah diri menjadi yang terburuk tanpa upaya apapun. Semua tergantung apa yang kita pilih.
Kadang kita sering bertanya, mengapa si anu yang tampaknya biasa-biasa saja ibadahnya bisa selalu merasa senang dalam hidupnya? Bukankah Sang Pemilik Jiwa mencintai orang-orang saleh yang rajin memanjatkan doa serta beribadah dengan segenap jiwa? Bukankah keimanan yang menghujam dalam dada ini sanggup mendobrak penghalang apapun dan menumbuhkan semangat juang berkali-kali lipat dari yang lainnya?
Memang. Tetapi di balik setiap peristiwa pasti terkandung pelajaran dari-Nya. Ada rahasia-rahasia hidup yang tak disingkap, yang akan menguji sejauh mana kesetiaan kita sebagai seorang hamba.
Seseorang yang saya sebutkan di atas, mungkin saja memiliki sikap yang demikian karena mengalami kepahitan hidup yang telah membuatnya jatuh berkali-kali. Orang lain yang melihat dari luar mungkin akan menganggapnya rapuh, tak punya pendirian, pesimistik, tak punya semangat hidup, dan penilaian negatif lainnya. Sedangkan mereka tak benar-benar mengetahui apa saja yang pernah ia alami. Apa yang membuatnya berkali-kali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan apa yang ia lakukan setelah berkali-kali jatuh. Tidak banyak yang tahu.
Tetapi biasanya, seseorang yang telah mengalami berbagai kesulitan dalam hidup, akan bisa bersikap lebih dewasa dan bijak dalam menanggapinya. Dan pastinya ia memiliki hati yang lebih tegar, karena terbiasa tertoreh rasa sakit. Biarpun berkali-kali jatuh, dengan iman di dada, ia pasti akan kembali bangkit.
Kesedihan dan kepedihan sebesar apapun, bila kita senantiasa mengingat bahwa hanya Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, niscaya yang tertinggal dalam hati adalah keikhlasan untuk menerima. Dan prasangka baik bahwa memang apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk diri kita saat ini. Bukankah Sang Pencipta tak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya?
Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Insyaallah.
Saya mengenal seseorang yang seperti itu. Hampir di sepanjang hidupnya, ia mengalami kejadian-kejadian buruk yang begitu menyakitkan hati. Hubungan saya dengannya bisa dikatakan cukup dekat, hingga saya seolah bisa merasakan sendiri pedihnya mengalami peristiwa-peristiwa tersebut. Bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa merasakan langsung perasaannya. Saya hanya bisa mencoba untuk mengerti, bahwa di setiap sikap pesimisnya, tersimpan amarah akan hal-hal buruk yang menimpanya. Sekaligus kesedihan karena ketidaksanggupan untuk mencegah hal-hal buruk itu supaya tidak terjadi, dan juga rasa malu yang kini ditanggung atas bad ending yang ia jalani. Menyedihkan, bukan?
Kehidupan ini seperti roda yang berputar, begitu kata orang. Kadang ia membawa kita ke atas, lalu ia berputar ke bawah. Kadang terhampar kemudahan, namun selanjutnya bisa pula badai menghadang. Dan sebagai seorang manusia yang lemah ini, kita seringkali terjebak akan ‘lubang-lubang’ keangkuhan dan keserakahan apabila kesenangan yang sedang digenggam. Atau kita seringkali terjerembab masuk ke dalam jebakan keingkaran dan kelalaian saat menerima kesedihan. Tak pernah ada puasnya. Hidup memang tempatnya salah dan lupa, tempatnya belajar dan berusaha, tempatnya kegagalan, dan sekaligus tempat manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik atau berpasrah diri menjadi yang terburuk tanpa upaya apapun. Semua tergantung apa yang kita pilih.
Kadang kita sering bertanya, mengapa si anu yang tampaknya biasa-biasa saja ibadahnya bisa selalu merasa senang dalam hidupnya? Bukankah Sang Pemilik Jiwa mencintai orang-orang saleh yang rajin memanjatkan doa serta beribadah dengan segenap jiwa? Bukankah keimanan yang menghujam dalam dada ini sanggup mendobrak penghalang apapun dan menumbuhkan semangat juang berkali-kali lipat dari yang lainnya?
Memang. Tetapi di balik setiap peristiwa pasti terkandung pelajaran dari-Nya. Ada rahasia-rahasia hidup yang tak disingkap, yang akan menguji sejauh mana kesetiaan kita sebagai seorang hamba.
Seseorang yang saya sebutkan di atas, mungkin saja memiliki sikap yang demikian karena mengalami kepahitan hidup yang telah membuatnya jatuh berkali-kali. Orang lain yang melihat dari luar mungkin akan menganggapnya rapuh, tak punya pendirian, pesimistik, tak punya semangat hidup, dan penilaian negatif lainnya. Sedangkan mereka tak benar-benar mengetahui apa saja yang pernah ia alami. Apa yang membuatnya berkali-kali mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan apa yang ia lakukan setelah berkali-kali jatuh. Tidak banyak yang tahu.
Tetapi biasanya, seseorang yang telah mengalami berbagai kesulitan dalam hidup, akan bisa bersikap lebih dewasa dan bijak dalam menanggapinya. Dan pastinya ia memiliki hati yang lebih tegar, karena terbiasa tertoreh rasa sakit. Biarpun berkali-kali jatuh, dengan iman di dada, ia pasti akan kembali bangkit.
Kesedihan dan kepedihan sebesar apapun, bila kita senantiasa mengingat bahwa hanya Allah Yang Maha Menentukan segala sesuatu, niscaya yang tertinggal dalam hati adalah keikhlasan untuk menerima. Dan prasangka baik bahwa memang apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk diri kita saat ini. Bukankah Sang Pencipta tak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya?
Di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Insyaallah.
Kangen ...
Sudah lama sekali tak menengok blog yang satu ini, rasanya kangen...
Akhir-akhir ini perasaan saya campur aduk. Jenuh, penat, tapi sekaligus juga bersemangat untuk melakukan hal-hal yang baru. Atau pindah ke tempat baru? Rasanya ide yang bagus juga. Tapi, kapan?
Beberapa 'pekerjaan' menumpuk di file yang tersimpan dalam otak. Ada yang mendesak keluar, ada yang 'mendem' di pojokan, sebagian lagi samar-samar menghilang.
Apa saja yang belum dikerjakan ya?
Menyelesaikan naskah yang tertunda, melanjutkan naskah baru, menulis surat-surat untuk FLP Sengata, merapikan pembukuan bisnis kecil-kecilan ... masih ada lagi yang lainnya.
Sementara ini penat itu reda dengan dua buku yang membawa benak ini melayang sebentar karena keindahannya: Dilatasi Memori dan Diorama Sepasang AlBanna.
Thanks to Ari Nur, (wah, Ry, jangan ge-er yah...istrimu memang pandai menulis :))
Everything's inspiring me now.
Hayo, mulai lagi!
Akhir-akhir ini perasaan saya campur aduk. Jenuh, penat, tapi sekaligus juga bersemangat untuk melakukan hal-hal yang baru. Atau pindah ke tempat baru? Rasanya ide yang bagus juga. Tapi, kapan?
Beberapa 'pekerjaan' menumpuk di file yang tersimpan dalam otak. Ada yang mendesak keluar, ada yang 'mendem' di pojokan, sebagian lagi samar-samar menghilang.
Apa saja yang belum dikerjakan ya?
Menyelesaikan naskah yang tertunda, melanjutkan naskah baru, menulis surat-surat untuk FLP Sengata, merapikan pembukuan bisnis kecil-kecilan ... masih ada lagi yang lainnya.
Sementara ini penat itu reda dengan dua buku yang membawa benak ini melayang sebentar karena keindahannya: Dilatasi Memori dan Diorama Sepasang AlBanna.
Thanks to Ari Nur, (wah, Ry, jangan ge-er yah...istrimu memang pandai menulis :))
Everything's inspiring me now.
Hayo, mulai lagi!
Saturday, April 25, 2009
Sebuah Profesi atau Bukan, Tetaplah Mulia
Saya seringkali mendapati pendapat-pendapat miring tentang profesi ‘ibu rumah tangga’. Bagaimanapun sepertinya banyak orang yang berpendapat bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pilihan terpaksa yang harus diambil oleh seorang perempuan ketika ia ‘terjebak’ dalam aktivitas rumah tangga, tidak memiliki profesi lain, dilarang bekerja oleh keluarga atau oleh suami, dan seterusnya. Sehingga muncul stigma negatif tentangnya.
Terus terang, dulu saya menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki pendapat negatif tersebut. Tepatnya, sekadar ikut-ikutan tanpa pernah mendalami maknanya. Saya hanya beranggapan, bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga artinya berdiam diri di rumah hanya mengurusi hal-hal yang itu-itu saja, dan seterusnya. Kadang, kita memang sering terlarut dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun setelah menjalaninya, pikiran saya berubah.
Seorang teman kuliah saya pernah menuliskan dalam sebuah situs pribadi bahwa profesi yang ia geluti sekarang adalah: a housewife. Seorang ibu rumah tangga. Awalnya saya hanya mengerenyit membacanya, sebab pada saat itu saya belum menikah dan sedang asyik-asyiknya menjalani pekerjaan saya. Seorang teman saya yang lain, ia seorang penulis, meyakinkan saya dengan ceritanya tentang kesehariannya yang mengurusi kelima orang anaknya dan dalam kondisi seperti itu ia produktif menerbitkan buku. Di tempat tinggal saya sekarang, ada seorang janda yang memiliki lima orang anak, ia tidak bekerja pada sebuah perusahaan manapun, tetapi memiliki keterampilan memasak yang akhirnya menjadi salah satu peluang mendapatkan rezeki, dan sekarang ia malah sedang menekuni kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.
Dan kemudian saya merenungkan jalan hidup yang dilakoni ibu saya tercinta. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan merelakan banyak hal pergi dari dirinya demi keluarganya. Begitu banyak yang ia korbankan. Seseorang yang sangat supel, gigih dalam meraih sesuatu, luwes, punya banyak ide kreatif, terampil dalam berbagai hal. Ibu saya sejak dulu bisa dibilang selalu sukses menjual segala macam hal, baik itu buatan sendiri maupun tidak. Semua orang mengenalnya sebagai seseorang yang luwes dalam berdagang, dan kenyataannya, keterampilannya tersebut memberinya kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, menyekolahkan saya dan adik saya, dan ia mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun. Mengagumkan, bukan?
Ketika akhirnya saya menikah, saya sedang berada dalam keasyikan menekuni pekerjaan yang sangat saya sukai di sebuah perusahaan. Waktu berlalu, dan pikiran untuk memiliki anak mulai sering menghampiri saya dan suami tentunya. Kebetulan saya termasuk seseorang yang selalu memikirkan segala sesuatu dengan detail, merencanakannya, baru memutuskannya. Dan saya waktu itu mulai berpikir serius, apakah ketika saya nantinya memiliki anak akan terus bekerja atau tidak? Apakah saya akan membayar seorang babysitter untuk mengurus anak-anak saya di rumah dan saya tetap bekerja? Bagaimana dengan rencana saya untuk mengurus anak-anak saya sendiri? Dan, memiliki seorang pembantu rumah tangga, benarkah itu yang saya inginkan?
Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya, dan mengejar mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Bercermin pada beberapa orang teman penulis yang menjadikan ‘menulis’ sebagai profesi, kemudian bahkan bisa menghidupi diri sendiri serta keluarga dari profesi tersebut, saya mulai merajut mimpi itu dan menjadikannya kenyataan. Tentu keputusan ini bukan tanpa pemikiran terlebih dulu. Tentu saya pun mengukur kemampuan diri dan suami untuk memutuskan hal ini. Suami sangat mendukung, dan ternyata Allah SWT memang memberikan jalan ini sebagai salah satu pintu rezeki bagi saya.
Dan inilah saya, dengan profesi baru saya sebagai ibu rumah tangga yang bisa menulis.
Dua tahun ini, saya banyak merenungkan hal ini, dan kemudian berkembanglah pikiran-pikiran positif tentang profesi sebagai ibu rumah tangga. Toh, memutuskan untuk berada di rumah dan sepenuhnya mengurus rumah tangga bukan berarti menjadi halangan bagi kreativitas diri untuk berkembang. Apalagi jika kita bisa mensiasati waktu untuk bisa menggali potensi diri, mengembangkannya, dan bahkan akhirnya mencari penghasilan sendiri dari rumah. Seorang ibu rumah tangga yang pandai berdagang, seorang ibu rumah tangga yang punya bisnis sendiri di rumah, seorang ibu rumah tangga yang pandai menulis, seorang ibu rumah tangga yang pandai berkebun dan akhirnya melakukan sesuatu dengan keterampilan itu, dan seterusnya. Bukankah banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dari rumah?
Pikiran-pikiran tersebut akhirnya menjadikan saya lebih bersemangat menjalani hari-hari bersama keluarga kecil saya. Kepercayaan diri saya meningkat, dan bahkan saya makin produktif menulis. Kegembiraan ini sedapat mungkin saya tularkan pada mereka yang sering mengeluhkan hal serupa pada saya. Yang merasa tak bisa berbuat apa-apa atau kadang jenuh beraktivitas rutin di rumah. Pengalaman saya berumah tangga memang baru seumur jagung, tetapi semangat yang saya punya, boleh lah ditularkan kepada yang lain.
Ketika saya kemudian menghadapi beberapa anggota pengajian yang saya tangani yang berprofesi sebagai karyawati perusahaan, saya menjadikannya bahan tambahan bagi perenungan saya.
Beberapa orang menginspirasi saya, dan beberapa yang lain membuat saya merenung lebih dalam. Seseorang di antara mereka memiliki tiga orang anak, dua di antaranya sudah bersekolah. Ia kadang mengantar jemput sendiri anak-anaknya, memasak sendiri makanan di rumah, dan teratur menelpon ke rumah untuk mengontrol kondisi anak-anak dengan pembantu rumah tangga yang menjaganya, ketika pulang ia tekun mendampingi anak-anaknya belajar.
Bagi saya, seseorang seperti yang saya contohkan di atas adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan kebetulan bekerja pada sebuah perusahaan. Ia tidak mengkonsentrasikan diri untuk bekerja saja, tetapi bisa dikatakan melakukan keduanya dengan sama baiknya. Memang ada lebih kurangnya, tetapi tetaplah ia melakukan kebaikan dengan menjalaninya dengan ikhlas dan penuh senang hati.
Rumit sekali jika harus mendebat ini-itu tentang hal ini. Saya hanya tak ingin kita terjebak pada profesi A atau B yang lebih mulia dan ‘bergengsi’, lalu akhirnya mengecilkan yang lainnya. Sepertinya melakukan hal-hal tersebut malah akan mengurangi keikhlasan dari yang sedang mengamalkannya.
Menjadi seorang ibu rumah tangga saja, atau yang didampingi dengan profesi lainnya, tetaplah ia sebuah pekerjaan yang mulia. Dan bagi yang mengerjakannya dengan ikhlas sepenuh hati, baginya ganjaran kebaikan yang telah dijanjikan Allah SWT. Subhanallah …
Terus terang, dulu saya menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki pendapat negatif tersebut. Tepatnya, sekadar ikut-ikutan tanpa pernah mendalami maknanya. Saya hanya beranggapan, bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga artinya berdiam diri di rumah hanya mengurusi hal-hal yang itu-itu saja, dan seterusnya. Kadang, kita memang sering terlarut dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Namun setelah menjalaninya, pikiran saya berubah.
Seorang teman kuliah saya pernah menuliskan dalam sebuah situs pribadi bahwa profesi yang ia geluti sekarang adalah: a housewife. Seorang ibu rumah tangga. Awalnya saya hanya mengerenyit membacanya, sebab pada saat itu saya belum menikah dan sedang asyik-asyiknya menjalani pekerjaan saya. Seorang teman saya yang lain, ia seorang penulis, meyakinkan saya dengan ceritanya tentang kesehariannya yang mengurusi kelima orang anaknya dan dalam kondisi seperti itu ia produktif menerbitkan buku. Di tempat tinggal saya sekarang, ada seorang janda yang memiliki lima orang anak, ia tidak bekerja pada sebuah perusahaan manapun, tetapi memiliki keterampilan memasak yang akhirnya menjadi salah satu peluang mendapatkan rezeki, dan sekarang ia malah sedang menekuni kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.
Dan kemudian saya merenungkan jalan hidup yang dilakoni ibu saya tercinta. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan merelakan banyak hal pergi dari dirinya demi keluarganya. Begitu banyak yang ia korbankan. Seseorang yang sangat supel, gigih dalam meraih sesuatu, luwes, punya banyak ide kreatif, terampil dalam berbagai hal. Ibu saya sejak dulu bisa dibilang selalu sukses menjual segala macam hal, baik itu buatan sendiri maupun tidak. Semua orang mengenalnya sebagai seseorang yang luwes dalam berdagang, dan kenyataannya, keterampilannya tersebut memberinya kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, menyekolahkan saya dan adik saya, dan ia mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun. Mengagumkan, bukan?
Ketika akhirnya saya menikah, saya sedang berada dalam keasyikan menekuni pekerjaan yang sangat saya sukai di sebuah perusahaan. Waktu berlalu, dan pikiran untuk memiliki anak mulai sering menghampiri saya dan suami tentunya. Kebetulan saya termasuk seseorang yang selalu memikirkan segala sesuatu dengan detail, merencanakannya, baru memutuskannya. Dan saya waktu itu mulai berpikir serius, apakah ketika saya nantinya memiliki anak akan terus bekerja atau tidak? Apakah saya akan membayar seorang babysitter untuk mengurus anak-anak saya di rumah dan saya tetap bekerja? Bagaimana dengan rencana saya untuk mengurus anak-anak saya sendiri? Dan, memiliki seorang pembantu rumah tangga, benarkah itu yang saya inginkan?
Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya, dan mengejar mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Bercermin pada beberapa orang teman penulis yang menjadikan ‘menulis’ sebagai profesi, kemudian bahkan bisa menghidupi diri sendiri serta keluarga dari profesi tersebut, saya mulai merajut mimpi itu dan menjadikannya kenyataan. Tentu keputusan ini bukan tanpa pemikiran terlebih dulu. Tentu saya pun mengukur kemampuan diri dan suami untuk memutuskan hal ini. Suami sangat mendukung, dan ternyata Allah SWT memang memberikan jalan ini sebagai salah satu pintu rezeki bagi saya.
Dan inilah saya, dengan profesi baru saya sebagai ibu rumah tangga yang bisa menulis.
Dua tahun ini, saya banyak merenungkan hal ini, dan kemudian berkembanglah pikiran-pikiran positif tentang profesi sebagai ibu rumah tangga. Toh, memutuskan untuk berada di rumah dan sepenuhnya mengurus rumah tangga bukan berarti menjadi halangan bagi kreativitas diri untuk berkembang. Apalagi jika kita bisa mensiasati waktu untuk bisa menggali potensi diri, mengembangkannya, dan bahkan akhirnya mencari penghasilan sendiri dari rumah. Seorang ibu rumah tangga yang pandai berdagang, seorang ibu rumah tangga yang punya bisnis sendiri di rumah, seorang ibu rumah tangga yang pandai menulis, seorang ibu rumah tangga yang pandai berkebun dan akhirnya melakukan sesuatu dengan keterampilan itu, dan seterusnya. Bukankah banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dari rumah?
Pikiran-pikiran tersebut akhirnya menjadikan saya lebih bersemangat menjalani hari-hari bersama keluarga kecil saya. Kepercayaan diri saya meningkat, dan bahkan saya makin produktif menulis. Kegembiraan ini sedapat mungkin saya tularkan pada mereka yang sering mengeluhkan hal serupa pada saya. Yang merasa tak bisa berbuat apa-apa atau kadang jenuh beraktivitas rutin di rumah. Pengalaman saya berumah tangga memang baru seumur jagung, tetapi semangat yang saya punya, boleh lah ditularkan kepada yang lain.
Ketika saya kemudian menghadapi beberapa anggota pengajian yang saya tangani yang berprofesi sebagai karyawati perusahaan, saya menjadikannya bahan tambahan bagi perenungan saya.
Beberapa orang menginspirasi saya, dan beberapa yang lain membuat saya merenung lebih dalam. Seseorang di antara mereka memiliki tiga orang anak, dua di antaranya sudah bersekolah. Ia kadang mengantar jemput sendiri anak-anaknya, memasak sendiri makanan di rumah, dan teratur menelpon ke rumah untuk mengontrol kondisi anak-anak dengan pembantu rumah tangga yang menjaganya, ketika pulang ia tekun mendampingi anak-anaknya belajar.
Bagi saya, seseorang seperti yang saya contohkan di atas adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan kebetulan bekerja pada sebuah perusahaan. Ia tidak mengkonsentrasikan diri untuk bekerja saja, tetapi bisa dikatakan melakukan keduanya dengan sama baiknya. Memang ada lebih kurangnya, tetapi tetaplah ia melakukan kebaikan dengan menjalaninya dengan ikhlas dan penuh senang hati.
Rumit sekali jika harus mendebat ini-itu tentang hal ini. Saya hanya tak ingin kita terjebak pada profesi A atau B yang lebih mulia dan ‘bergengsi’, lalu akhirnya mengecilkan yang lainnya. Sepertinya melakukan hal-hal tersebut malah akan mengurangi keikhlasan dari yang sedang mengamalkannya.
Menjadi seorang ibu rumah tangga saja, atau yang didampingi dengan profesi lainnya, tetaplah ia sebuah pekerjaan yang mulia. Dan bagi yang mengerjakannya dengan ikhlas sepenuh hati, baginya ganjaran kebaikan yang telah dijanjikan Allah SWT. Subhanallah …
Dakwah dan Sebuah Proses Belajar
Semenjak saya berkecimpung dalam dakwah, saya telah diajarkan bahwa siapapun yang melakukan dan apapun caranya (asalkan tidak melanggar perintah Allah Swt dan Sunnah Rasulullah SAW) maka tujuan yang sama yaitu berdakwah kepada Islam tidaklah boleh menjadi awal pertentangan. Toh, tujuan kita sama: berdakwah kepada Islam dengan tujuan lillahi ta'ala. Dan apapun sarananya, akan tetap menjadi sebuah sarana saja, tidak boleh berubah menjadi tujuan utama. Sebab jika berubah, maka itu akan mengubah niat lurus tulus ikhlas menjadi melenceng. Bukankah sebuah amal yang tidak didasari niat yang ikhlas maka amal itu tidak diterima?
Dan kemudian saya merenungkan perjalanan dakwah yang telah semenjak tahun 1994 saya tekuni. Saya telah bersama-sama dengan orang-orang yang sabar, yang rajin mengkaji Islam serta memacu saya untuk meningkatkan ibadah harian, yang mengajarkan saya cara menyampaikan kebaikan pada orang lain dengan simpatik, dan juga memahamkan pada saya bahwa walaupun sekian banyak orang menentang dakwah namun langkah tak boleh berhenti. Sebab proses perjalanan dakwah itu sendiri lah yang terpenting; bagaimana kita berinteraksi, bagaimana perlahan pemahaman mulai terbentuk, bagaimana belajar berkorban untuk kepentingan orang lain, dan bagaimana menang dan kalah harus dihadapi. Jawabannya tetap sama: jika konsisten, maka apapun hasilnya akan selalu terasa membanggakan. Bukankah kita semua adalah para pembelajar? Dan orang-orang yang belajar harus terbiasa dengan kegagalan serta keberhasilan.
Bagaimana dengan hasil maksimal yang selalu menjadi target sebuah tindakan, dan harapan tinggi dari sebuah upaya? Tentu saja hal tersebut patut diperhitungkan. Sebab dari mencanangkan sebuah target, semangat dan kerja keras akan termunculkan. Seseorang yang memiliki impian tinggi dan kemauan untuk mewujudkannya, suatu saat akan mengubah mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Dan saat itu ia akan menikmati sebuah hasil membanggakan dari upayanya selama ini. Tetapi memang waktu dimana impian itu terwujud tidak pernah bisa diatur oleh si pelaku. Sebab manusia memang hanya bisa berusaha, dan selebihnya akan berlaku ketentuan Sang Maha Kuasa. Bila memang terwujudnya sebuah mimpi merupakan kebaikan baginya, maka Allah SWT akan mengabulkan, namun bila ternyata itu bukanlah sebuah kebaikan, bisa jadi Allah SWT tidak memberikannya atau menundanya hingga saat yang tepat. Wallahu A’lam. Hidup memang misteri, sebab itulah kita semua hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Siapa tahu, impian tersebut akan terwujud ketika kelak anak dan cucu kita yang menjadi pelakunya. Hingga kita sendiri tak bisa menikmati, namun bukankah dengan tetap berusaha dengan ikhlas berarti kita sedang merajut investasi untuk generasi mendatang? Berarti tidak ada satu pun usaha manusia di dunia yang sia-sia.
Ketika saya berpindah-pindah tempat tinggal, tentunya lebih beragam lagi orang yang saya temui. Berbagai karakter pribadi, berbagai pemahaman. Pengetahuan seseorang memang sepertinya tidak bisa diukur dengan umur. Artinya, seseorang yang berusia 40 tahun misalnya, bukan berarti lebih paham dan lebih banyak pengetahuannya daripada seseorang yang berusia 20 tahun. Dan sebaliknya, seseorang yang berusia 20 tahun memang belum tentu lebih berpengalaman daripada seseorang yang berusia 40 tahun. Bagaimanapun, setiap orang telah menjalani kehidupannya masing-masing, dan itu akan menjadi penentu bagi lebih dan kurangnya pemahaman seseorang akan sesuatu.
Demikian juga dengan sikap berbeda yang ditunjukkan masing-masing orang terhadap kemenangan maupun kekalahan. Seperti yang dipaparkan di atas. Karakter pribadi, kekuatan iman, dan pemahaman akan hidup akan menjadikan reaksi itu berbeda-beda. Kadang, ketidaksiapan menghadapi sebuah kemenangan akan membuat sikap seseorang menjadi konyol di hadapan orang lain. Dan juga sebaliknya, ketidaksiapan seseorang dalam menghadapi kekalahan akan membuat orang tersebut terlihat betul sebagai seorang pecundang. Padahal tidak perlu seperti itu, sebab kita semua adalah pembelajar. Dan pembelajar sejati tak pernah berlebihan dalam menanggapi kemenangan dan kekalahan yang mesti ada dalam kehidupan. Tapi, ya memang, manusia tetaplah seorang manusia. Ia selamanya tidak pernah menjadi malaikat. Jadi, tak perlu risau dengan ketidaksempurnaan itu.
Di balik keberhasilan dan kegagalan selalu ada pelajaran besar bagi kelanjutan hidup ini. Bukankah dakwah tidak akan pernah berhenti selama masih ada orang-orang yang perlu didakwahi? Dan bukankah inti darinya adalah proses belajar? Dan proses belajar yang selama ini dijalani tidak boleh berkurang atau bahkan berhenti hanya karena kita semua sedang sibuk bertarung. Seperti juga Rasulullah dan para sahabat dulu, yang tidak pernah melupakan aktivitas peningkatan ruhiyah ketika pun sedang perang. Jadi, ketika Allah belum menakdirkan kemenangan itu hadir, berarti ada satu dua pelajaran yang perlu kita pahami. Mungkin kesibukan bekerja menjadikan kita lupa akan esensi dari dakwah yang dilakukan? Yaitu belajar dan mengajarkan.
Mari, kembali kepada orisinalitas dakwah ini. Mari beningkan hati kembali.
Wallahu A’lam.
Dan kemudian saya merenungkan perjalanan dakwah yang telah semenjak tahun 1994 saya tekuni. Saya telah bersama-sama dengan orang-orang yang sabar, yang rajin mengkaji Islam serta memacu saya untuk meningkatkan ibadah harian, yang mengajarkan saya cara menyampaikan kebaikan pada orang lain dengan simpatik, dan juga memahamkan pada saya bahwa walaupun sekian banyak orang menentang dakwah namun langkah tak boleh berhenti. Sebab proses perjalanan dakwah itu sendiri lah yang terpenting; bagaimana kita berinteraksi, bagaimana perlahan pemahaman mulai terbentuk, bagaimana belajar berkorban untuk kepentingan orang lain, dan bagaimana menang dan kalah harus dihadapi. Jawabannya tetap sama: jika konsisten, maka apapun hasilnya akan selalu terasa membanggakan. Bukankah kita semua adalah para pembelajar? Dan orang-orang yang belajar harus terbiasa dengan kegagalan serta keberhasilan.
Bagaimana dengan hasil maksimal yang selalu menjadi target sebuah tindakan, dan harapan tinggi dari sebuah upaya? Tentu saja hal tersebut patut diperhitungkan. Sebab dari mencanangkan sebuah target, semangat dan kerja keras akan termunculkan. Seseorang yang memiliki impian tinggi dan kemauan untuk mewujudkannya, suatu saat akan mengubah mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Dan saat itu ia akan menikmati sebuah hasil membanggakan dari upayanya selama ini. Tetapi memang waktu dimana impian itu terwujud tidak pernah bisa diatur oleh si pelaku. Sebab manusia memang hanya bisa berusaha, dan selebihnya akan berlaku ketentuan Sang Maha Kuasa. Bila memang terwujudnya sebuah mimpi merupakan kebaikan baginya, maka Allah SWT akan mengabulkan, namun bila ternyata itu bukanlah sebuah kebaikan, bisa jadi Allah SWT tidak memberikannya atau menundanya hingga saat yang tepat. Wallahu A’lam. Hidup memang misteri, sebab itulah kita semua hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Siapa tahu, impian tersebut akan terwujud ketika kelak anak dan cucu kita yang menjadi pelakunya. Hingga kita sendiri tak bisa menikmati, namun bukankah dengan tetap berusaha dengan ikhlas berarti kita sedang merajut investasi untuk generasi mendatang? Berarti tidak ada satu pun usaha manusia di dunia yang sia-sia.
Ketika saya berpindah-pindah tempat tinggal, tentunya lebih beragam lagi orang yang saya temui. Berbagai karakter pribadi, berbagai pemahaman. Pengetahuan seseorang memang sepertinya tidak bisa diukur dengan umur. Artinya, seseorang yang berusia 40 tahun misalnya, bukan berarti lebih paham dan lebih banyak pengetahuannya daripada seseorang yang berusia 20 tahun. Dan sebaliknya, seseorang yang berusia 20 tahun memang belum tentu lebih berpengalaman daripada seseorang yang berusia 40 tahun. Bagaimanapun, setiap orang telah menjalani kehidupannya masing-masing, dan itu akan menjadi penentu bagi lebih dan kurangnya pemahaman seseorang akan sesuatu.
Demikian juga dengan sikap berbeda yang ditunjukkan masing-masing orang terhadap kemenangan maupun kekalahan. Seperti yang dipaparkan di atas. Karakter pribadi, kekuatan iman, dan pemahaman akan hidup akan menjadikan reaksi itu berbeda-beda. Kadang, ketidaksiapan menghadapi sebuah kemenangan akan membuat sikap seseorang menjadi konyol di hadapan orang lain. Dan juga sebaliknya, ketidaksiapan seseorang dalam menghadapi kekalahan akan membuat orang tersebut terlihat betul sebagai seorang pecundang. Padahal tidak perlu seperti itu, sebab kita semua adalah pembelajar. Dan pembelajar sejati tak pernah berlebihan dalam menanggapi kemenangan dan kekalahan yang mesti ada dalam kehidupan. Tapi, ya memang, manusia tetaplah seorang manusia. Ia selamanya tidak pernah menjadi malaikat. Jadi, tak perlu risau dengan ketidaksempurnaan itu.
Di balik keberhasilan dan kegagalan selalu ada pelajaran besar bagi kelanjutan hidup ini. Bukankah dakwah tidak akan pernah berhenti selama masih ada orang-orang yang perlu didakwahi? Dan bukankah inti darinya adalah proses belajar? Dan proses belajar yang selama ini dijalani tidak boleh berkurang atau bahkan berhenti hanya karena kita semua sedang sibuk bertarung. Seperti juga Rasulullah dan para sahabat dulu, yang tidak pernah melupakan aktivitas peningkatan ruhiyah ketika pun sedang perang. Jadi, ketika Allah belum menakdirkan kemenangan itu hadir, berarti ada satu dua pelajaran yang perlu kita pahami. Mungkin kesibukan bekerja menjadikan kita lupa akan esensi dari dakwah yang dilakukan? Yaitu belajar dan mengajarkan.
Mari, kembali kepada orisinalitas dakwah ini. Mari beningkan hati kembali.
Wallahu A’lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)







